Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

Pembangunan Di Untad Ibarat Kedondong

Universitas Tadulako Dari Depan (foto:bpp)

Universitas Tadulako merupakan salah satu Universitas terbesar di Asia Tenggara ditinjau dari luas wilayahnya. Universitas yang telah didirikan pertama kali sejak tahun 1963 dengan status swasta ini telah menjelma menjadi salah satu Universitas Negeri yang cukup populer terutama dikalangan penduduk Indonesia bagian timur dan tengah. Hal ini dibuktikan dengan adanya mahasiswa yang berasal tidak hanya dari wilayah Sulawesi saja melainkan juga dari luar pulau Sulawesi.
Universitas Tadulako berdiri sendiri sebagai perguruan tinggi negeri pada tahun 1981 sejak diterbitkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 36 tertanggal 14 Agustus 1981. Sejak saat itu Untad terus mengalami peningkatan mulai dari jumlah fakultas yang awalnya hanya 5 (lima)  yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kini tercatat sudah ada 10 gugus Fakultas di Universitas Tadulako.
Dalam kurun waktu sekitar 33 tahun sejak Universitas Tadulako diresmikan sebagai salah satu Universitas Negeri berdasarkan Keppres No. 36 Tahun 1981, telah banyak perkembangan yang patut dibanggakan dari Universitas Tadulako.
Beberapa tahun belakangan ini Universitas Tadulako giat melakukan pembangunan terutama dari segi infrastruktur berupa bangunan dan desain dekorasi pertamanannya yang ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan kemajuan dan kemodernan dari Untad itu sendiri. Seperti pembangunan Gedung Rektorat baru Untad yang belum lama ini rampung, kemudian ada juga pembangunan IT Centre yang desainnya bak convention hall hotel berbintang. Tidak hanya sampai disitu saja, Untad juga telah berhasil memugar tampilan taman khususnya taman didepan Untad beserta plang baru Universitas Tadulako yang dibangun dengan gaya arsitektur modern. Adapula pembangunan yang tengah berjalan yaitu pembangunan gedung auditorium baru Untad, pembangunan ini telah dimulai sejak Juli 2014 dengan nilai kontrak ditafsir mencapai 37 milyar dan masih dalam proses pengerjaan. Jelas ini perkembangan yang sangat pesat dalam kampus Untad.
Taman Untad yang kian memanjakan mata (foto : bpp)

Namun dibalik pembangunan infrakstruktur yang begitu mengagumkan, ada fakta yang cukup miris yang tidak diketahui oleh orang – orang diluar kalangan kampus Untad. Yaitu kurangnya perhatian birokrasi dalam menyediakan sarana dan prasana perkuliahan mahasiswanya. Jika kita menelisik lagi jauh kedalam kampus maka akan kita temukan kondisi yang tidak sesuai dengan tampak luar dai Universitas Tadulako itu sendiri. 
Sebagai contoh di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) terdapat beberapa pemandangan yang seharusnya tidak kita dapatkan di kampus sekelas Untad. Yang paling utama adalah kurangnya ruangan belajar bagi mahasiswa, ini ditandai dengan pemakaian ruangan secara beramai – ramai oleh beberapa angkatan secara bergantian dan tidak adanya ruangan tetap untuk proses perkuliahan. Hal ini mungkin masih bisa dimaklumi karena bisa jadi pergantian ruangan ini adalah strategi untuk efisiensi biaya perawatan dan operasional bangunan. Namun hal yang paling miris adalah kurangnya kursi mahasiswa hingga beberapa kali didapati pemandangan mahasiswa yang menarik kursi dari satu ruangan keruangan yang lain, ini disebabkan oleh ketidaksesuaian jumlah mahasiswa dengan kursi yang ada. Beberapa fakta diatas hanya sebagian kecil dari berbagai kekurangan yang ada dikampus tercinta kita ini.
Beberapa mahasiswa tengah memindahkan kursi dari ruangan sebelah untuk mengikuti perkuliahan (foto:bpp)
 
Agaknya birokrasi di Untad bisa lebih memperhatikan lagi kondisi sarana dan prasarana khususnya untuk perkuliahan, karena menurut hemat penulis sendiri bahwa kampus adalah merupakan tempat untuk melahirkan para pemuda yang berkompeten dan dapat memajukan bangsa, pertanyaannya kemudian bagaimana hal ini dapat diraih jika kurangnya dukungan yang mendasar sekalipun. Dianalogikan sebuah kedondong Universitas Tadulako hanya terlihat berkembang dari luarnya saja namun tidak disertai dengan perkembangan penting lainnya dalam sarana dan prasarana. Para mahasiswa mengharapkan perhatian dari pihak yang berwenang dalam kampus Untad agar seimbang dalam melakukan perbaikan dan pembangunan demi kemajuan Untad kearah yang lebih baik lagi. Jayalah Universitas Tadulako!!! (BPP/IJIK).


Jumat, 19 Desember 2014

TUGAS JURNALISME KONTEMPORER (ANALISIS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN CITIZEN JOURNALISM)


BAYU PRAMANA PUTRA
B501 12 050 
JURNALISME KONTEMPORER (KELEBIHAN DAN KEKURANGAN CITIZEN JOURNALISM)

Berawal ketika di kelas Jurnalisme Kontemporer pada tanggal 12 Desember 2014, ketika itu saya yang masih dalam keadaan setengah sadar akibat memaksakan diri untuk bangun dari tidur karena ada jam kuliah dikampus mendengarkan penjelasan tentang tugas yang akan menjadi syarat untuk absen kehadiran minggu berikutnya. Jujur saya kurang menangkap apa sebenarnya tugas yang Dosen saya instruksikan, namun setelah tanya sana sini dengan teman sekelas akhirnya saya menyimpulkan bahwa tugasnya adalah menganalisis Dampak positif dan negatif dari jurnalisme warga atau Citizen journalism.
Berbicara tentang citizen journalism maka ada baiknya kita membaca rangkuman materi yang saya kumpulkan dan saya tulis kembali dengan bahasa saya sendiri di bawah ini.
A.   Pengertian Citizen Journalism
Saat itu tahun 2007 ketika pertama kali saya mengenal internet. Kemudian saya membuka salah satu situs berita online yaitu Liputan6.com dan saya mendapati sebuah kolom tentang citizen journalism dan ketika saya buka isinya adalah tulisan – tulisan dari masyarakat umum. Awalnya saya kebingungan dengan istilah ini, bahkan pada beberapa berita yang ditayangkan bahkan ada video yang berasal dari kamera handpone yang direkam oleh warga.
Setelah membaca berbagai artikel yang bertebaran kesana kemari di internet maka saya akhirnya dapat mendefinisikan bahwa Citizen journalism atau jurnalisme warga adalah kegiatan pengumpulan , produksi dan penyebaran berita atau informasi yang dilakukan oleh masyarakat biasa atau warga dari berbagai kalangan yang pada umumnya melalui media online seperti blogger, situs microblog, media sosial dan berbagai media online lainnya.
B.   Kelebihan Citizen Journalism
Berdasarkan sifatnya yang bebas, aktual dan cenderung murah maka citizen journalism dapat menyebarkan berita dengan cepat dan luas tanpa memandang batasan jarak dan waktu. Hal ini dikarenakan media yang digunakan dalam praktek citizen journalism sebagian besar merupakan media online. Karena sifatnya yang interaktif maka sebuah berita yang dihasilkan dari kegiatan citizen journalism akan dapat langsung dikritik dan dapat berlangsung tanya jawab antara penulis berita dengan pembacanya.
Dalam beberapa kasus bahkan para jurnalis profesional mendapatkan berita justru dari jurnalis warga ini dan kemudian dilakukan investigasi yang mendalam dari para jurnalis profesional hingga akhirnya terbit berita yang lebih kredibel. Selain itu karena siapapun dapat menjadi jurnalis warga maka hal ini menurut saya sangat bagus dan dapat meningkatkan pola pemikiran masyarakat. Jika dulunya masyarakat masa bodoh dengan keadaan sekitar maka dengan adanya Jurnalisme warga ini diharapkan masyarakat dapat turut serta dalam kegiatan kontrol masyarakat melalui berita. Karena pada dasarnya prinsip jurnalisme warga adalah saling berbagi.
Karena seorang jurnalisme warga cenderung tidak terikat pada satu instansi tertentu hal ini berpengaruh pada konten yang ia buat. Jurnalis warga tidak akan pernah terkekang oleh agenda suatu media karena ia berdiri sendiri tanpa naungan media tertentu. Hal ini akan berdampak pada penayangan berita yang sejujur – jujurnya tanpa adanya keberpihakan dan kepentingan instansi terkait apalagi kepentingan birokrasi yang menyulitkan.
C.   Kelemahan Citizen Journalism
Ketika ada kelebihan maka disitu juga akan ada kelemahan, hal itu merupakan hukum alam yang berlaku. Nah citizen journalism juga memiliki banyak kekurangan dibalik segudang kelebihannya diantaranya ketidak patuhan terhadap kode etik jurnalis. Karena siapa saja bisa menjadi jurnalis warga maka tidak semua berasal dari kalangan terpelajar, hal ini kemudian menimbulkan terbitnya konten berita yang tidak layak biasanya berisi pencemaran nama baik, berita yang tidak memenuhi syarat, berita yang tidak akurat dan bahkan justru berita palsu.
Karena sampai saat ini Citizen journalism belum memiliki kode etik khusus maka belum ada landasan hukum untuk mengambil tindakan ketika jurnalis warga menimbulkan kerugian bagi masyarakat umum maupun kalangan tertentu. Belum ada hukum yang jelas dalam mengatur kegiatan Citizen journalism ini.

Rabu, 26 Maret 2014

TEORI DIFUSI INOVASI DAN PENEMUNYA





A.   BIOGRAFI SINGKAT EVERET M. ROGERS (6 Maret 1931 – 21 Oktober  2004)

Bernama lengkap Everett M. Rogers, pria ini dilahirkan di Carroll, Iowa pada tanggal 6 Maret 1931. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga pemilik Pinehurst Farm. Awalnya Rogers tidak memiliki ide untuk mengambil kuliah hingga gurunya mengarahkannya beserta beberapa teman-teman sekelasnya untuk mengambil Agriculture untuk  S1 dan S2-nya di Iowa State University. Selanjutnya ia sempat menjadi suka relawan di perang Korea selama 2 tahun. Sepulangnya dari perang itu Rogers kembali lagi ke Iowa State University untuk mendapatkan gelar PhD di bidang sosiologi dan statistik pada tahun 1957.

B.   SEJARAH TEORI
Pada tahun 1950-an, Iowa State University menghasilkan banyak lulusan besar di bidang pertanian dan khususnya masalah sosiologi pedesaan. Banyak sekali inovasi pertanian yang dihasilkan seperti benih jagung hybrid, pupuk kimiawi, dan semprotan untuk rumput liar. Namun tidak semua petani mengadopsi beberapa inovasi tersebut, hanya ada beberapa petani saja yang mengadopsinya setelah inovasi tersebut berhasil dilakukan oleh beberapa petani barulah inovasi tersebut menyebar secara perlahan-lahan. Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi Rogers hingga akhirnya menjadi inti dari disertasi Rogers di Iowa State University. Disertasinya berupa penyebaran atau difusi weed spray, ia juga melakukan wawancara langsung terhadap 200 petani tentang keputusannya untuk keputusan mereka mengadopsi inovasi tersebut. Selain itu Rogers juga memelajari bagaimana difusi inovasi dari bidang-bidang lain, misalnya pada bidang pendidikan, marketing, dan obat-obatan. Ia menemukan banyak kesamaan dalam beberapa bidang tersebut. Hasilnya merujuk kepada S-shaped Diffusion Curve yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog Prancis bernama Gabriel Tarde pada awal abad ke-20.
Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya menggambarkan dimensi waktu.
Rogers (1983) mengatakan, “Tarde’s S-shaped diffusion curve is of current importance because “most innovations have an S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.



Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960, di mana studi atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Melalui bukunya yang berjudul Diffusion of Innovation yang kini menjadi buku legendaris, Rogers menjelaskan hasil risetnya tentang difusi atau penyebaran inovasi dalam suatu sistem sosial dan pengaplikasiannya di berbagai bidang. Hal ini yang membantu beberapa negara di daerah Asia, Africa, dan Amerika Latin untuk menyebarkan inovasi dalam bidang pertanian, family planning, dan beberapa perubahan sosial lainnya. Hingga mereka menjadi negara yang mandiri.

C.   ESENSI TEORI
Di dalam buku Diffusion of Innovation, Everett M. Rogers mendefinisikan difusi inovasi adalah ”proses sosial yang mengomunikasikan informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi sosial.”
inovasi yang dipandang oleh penerima sebagai inovasi yang mempunyai manfaat relatif, kesesuaian, kemampuan untuk dicoba, kemampuan dapat dilihat yang jauh lebih besar, dan tingkat kerumitan yang lebih rendahakan lebih cepat diadopsi daripada inovasi-inovasi lainnya.
Difusi merupakan suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru. Komunikasi didefinisikan sebagai proses dimana para pelakunya menciptakan informasi dan saling bertukar informasi untuk mencapai pengertian bersama. Di dalam pesan itu terdapat ketermasaan (newness) yang memberikan ciri khusus kepada difusi yang menyangkut ketakpastian (uncertainty).
Asumsi utama yang dapat disimpulkan dari teori ini adalah sebagai berikut
1.    Difusi inovasi adalah proses sosial yang mengomunikasikan informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi sosial
2.    Inovasi yang dipandang oleh penerima sebagai inovasi yang mempunyai manfaat relatif, kesesuaian, kemampuan untuk dicoba, kemampuan dapat dilihat yang jauh lebih besar, dan tingkat kerumitan yang lebih rendah akan lebih cepat diadopsi daripada inovasi-inovasi lainnya
3.    Ada sedikitnya 5 tahapan dalam difusi inovasi yakni, tahap pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi
4.    Ada 5 tipe masyarakat dalam mengadopsi inovasi yakni inovator, early adopter, early majority, late majority, dan laggard.



D.   Unsur – Unsur Difusi Inovasi
-       Inovasi
Inovasi merupakan sebuah ide, praktek, atau objek yang dianggap sebagai suatu yang baru oleh seorang individu atau satu unit adopsi lain. Semua inovasi memiliki komponen ide tetapi tak banyak yang memiliki wujud fisik, ideologi misalnya. Inovasi yang tidak memliliki wujud fisik diadopsi berupa keputusan simbolis. Sedangkan yang memiliki wujud fisik pengadopsiannya diikuti dengan keputusan tindakan. Rogers (1983) mengemukakan lima karakteristik inovasi yang dapat memengaruhi keputusan terhadap pengadopsian suatu inovasi meliputi:
a.    Keunggulan relatif (relative advantage)
Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik atau unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, prestise sosial, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.
Contohnya : Dalam pembelian handphone, pengguna handphone akan mencari handphone  yang lebih baik dari yang ia gunakan sebelumnya. Misalnya dari penggunaan Nokia N97 berganti ke Blackberry
b.    Kompatibilitas (compatibility)
Kompatibilitas adalah derajat dimana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).
Contohnya : Dalam suku Badui dalam terdapat aturan untuk tidak menggunakan teknologi dari luar, sehingga bentuk inovasi seperti alat-elektronik tidak mereka adopsi karena tidak sesuai dengan norma sosial yang mereka miliki
c.    Kerumitan (complexity)
Kerumitan adalah derajat dimana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.
Contoh : Masyarakat pengguna PC atau notebook  terbiasa dengan penggunaan Windows yang lebih mudah dibandingkan Linux, walaupun Linux memiliki kelebihan dibandingkan Windows tetapi karena penggunaannya lebih rumit masih sedikit orang yang menggunakan Linux
d.    Kemampuan diujicobakan (trialability)
Kemampuan untuk diujicobakan adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.
Contoh : Produk Molto Ultra Sekali Bilas cepat diterima masyarakat karena secara langsung dapat dibandingkan dengan produk-produk sejenis lainnya.
e.    Kemampuan diamati (observability)
Kemampuan untuk diamati adalah derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.

-       Saluran komunikasi
Tujuan komunikasi adalah tercapainya suatu pemahaman bersama atau yang biasa disebut mutual understanding antara dua atau lebih partisipan komunikasi terhadap suatu pesan (dalam hal ini adalah ide baru) melalui saluran komunikasi tertentu. Dengan demikian diadopsinya suatu ide baru (inovasi) dipengaruhi oleh partisipan komunikasi dan saluran komunikasi. Saluran komunikasi dapatr dikatakan memegang peranan penting dalam proses penyebaran inovasi, karena melalui itulah inovasi dapat tersebar kepada anggota sistem sosial.
Dalam tahap-tahap tertentu dari proses pengambilan keputusan inovasi, suatu jenis saluran komunikasi tertentu juga memainkan peranan lebih penting dibandingkan dengan jenis saluran komunikasi lain. Ada dua jenis kategori saluran komunikasi yang digunakan dalam proses difusi inovasi, yakni saluran media massa dan saluran antarpribadi atau saluran lokal dan kosmopolit. Saluran lokal adalah saluran yang berasal dari sistem sosial yang sedang diselidiki. Saluran kosmopolit adalah saluran komunikasi yang berada di luar sistem sosial yang sedang diselidiki. Media massa dapat berupa radio, televisi, surat kabar, dan lain-lain. Kelebihan media massa adalah dapat menjangkau audiens yang banyak dengan cepat dari satu sumber. Sedangkan saluran antarpribadi dalam proses difusi inovasi ini melibatkan upaya pertukaran informasi tatap muka antara dua atau lebih individu yang biasanya memiliki kekerabatan dekat.
Hasil penelitian berkaitan dengan saluran komunikasi menunjukan beberapa prinsip sebagai berikut:
a.    Saluran komunikasi masa relatif lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran antar pribadi (interpersonal) relatif lebih penting pada tahap persuasi. Hal ini disebabkan saluran komunikasi massa dapat membentuk awareness secara serempak dalam waktu yang dikatakan cukup singkat dibandingkan dengen efek komunikasi antarpribadi.
b.    Saluran kosmopolit lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran lokal relatif lebih penting pada tahap persuasi.
c.    Saluran media masa relatif lebih penting dibandingkan dengan saluran antar pribadi bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter). Sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, golongan adopter awal menyukai ide-ide baru tanpa perlu persuasi yang berlebihan sehingga media massa saja sudah cukup membuat mereka mau mengadopsi sebuah inovasi berbeda dengan orang-orang dari golongan adopter akhir, karakteristik mereka yang kurang menyukai risiko menyebabkan komunikasi antarpribadi yang paling bekerja dengan baik. Mereka cenderung melihat atau berkaca pada orang-orang disekitar mereka yang sudah menggunakan inovasi tersebut dan apabila berhasil mereka baru mau mengikutinya.
d.    Saluran kosmopolit relatif lebih penting dibandingkan denan saluran lokal bagi bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter).

Metode komunikasi massa seperti penggunaan iklan memang dapat menyebarkan informasi tentang inovasi baru dengan cepat tetapi hal tersebut tidak lantas dapat begitu saja membuat inovasi baru tersebut diadopsi oleh khalayak. Hal itu dikarenakan diadopsi tidaknya inovasi baru  terkait dengan masalah resiko dan ketidakpastian. Disinilah letak pentingnya komunikasi antarpribadi. Orang akan lebih percaya kepada orang yang sudah dikenalnya dan dipercayai lebih awal atau orang yang mungkin sudah berhasil mengadopsi inovasi baru itu sendiri, dan juga orang yang memiliki kredibilitas untuk memberi saran mengenai inovasi tersebut. Hal tersebut digambarkan oleh ilustrasi kurva dibawah ini yang menggambarkan bahwa komunikasi interpersonal menjadi begitu sangat berpengaruh dari waktu ke waktu dibandingkan dengan komunikasi massa.


Dari hasil penelitian, banyak disebutkan bahwa saluran komunikasi  media massa akan optimal digunakan pada tahap pengetahuan dan saluran interpersonal akan lebih optimal digunakan pada tahap persuasi. Namun pada kenyataannya, di negara yang belum maju kekuatan komunikasi interpersonal masih dinilai lebih penting dalam tahap pengetahuan. Hal ini disebabkan karena kurangnya media massa yang dapat dijangkau masyarakat terutama di pedesaan, tingginya tingkat buta huruf penduduk, dan mungkin pula disebabkan ketidakrelevanan antara isi media dengan kebutuhan masyarakat, misalnya terlalu banyak hiburan atau hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk diberitakan. Karena hal-hal tersebut, saluran komunikasi interpersonal terutama yang bersifat kosmopolit dinilai lebih baik dibanding saluran media massa.
Untuk mendapatkan hasil penyebaran inovasi yang optimal, yakni memperbesar tingkat adopsi suatu inovasi dapat dilakukan dengan pengaplikasian saluran komunikasi yang tepat pada situasi yang tepat. Pertama, pada tahap pengetahuan hendaknya kita menggunakan media massa untuk menyebarluaskan informasi tentang adanya inovasi tersebut. Selanjutnya digunakan saluran komunikasi interpersonal yang bersifat persuasif dan personal pada tahap persuasi.




-      Kurun waktu tertentu
Waktu merupakan salah satu unsur penting dalam proses difusi. Dimensi waktu, dalam proses difusi, berpengaruh dalam tiga hal, yakni:
ü  Proses keputusan inovasi, yaitu proses mental yang terjadi dimana individu mulai mengalami  tahapan menerima informasi pertama yang membentuk sikap seseorang terhadap inovasi sampai kepada keputusan apakah individu tersebut menerima atau menolak inovasi, hingga tahapan implementasi dan konfirmasi berkenaan dengan inovasi tersebut.
Ada beberapa tahap dalam proses keputusan inovasi ini, yakni:
Tahap pengetahuan pertama terhadap inovasi
Tahap pembentukan sikap kepada inovasi
Tahap pengambilan keputusan menerima atau menolak inovasi
Tahap pelaksanaan inovasi
Tahap konfirmasi dari keputusan
ü  Waktu memengaruhi difusi dalam keinovatifan individu atau unit adopsi. Keinovatifan adalah tingkatan dimana individu dikategorikan secara relative dalam mengadopsi sebuah ide baru dibanding anggota suatu sistem sosial lainnya. Kategori tersebut antara lain adalah innovator, early adopter, early majority, late majority, dan laggard. Klasifikasi ini dikarenakan dalam sebuah sistem, individu tidak akan secara serempak dalam suatu waktu mengadopsi sebuah inovasi melainkan perlahan-lahan secara berurut. Keinovatifan inilah yang pada akhirnya menjadi indikasi yang menunjukkan perubahan tingkah laku individu
ü  Kecepatan rata-rata adopsi ide baru dalam sebuah sistem sangat dipengaruhi oleh dimensi waktu. Kecepatan adopsi adalah kecepatan relative yang berkenaan dengan pengadopsian suatu inovasi oleh anggota suatu sistem mengadopsi suatu inovasi dalam periode waktu tertentu. Kecepatan ini selalu diukur dengan jumlah anggota suatu sistem yang mengadopsi inovasi dalam periode waktu tertentu.

-       Sistem Sosial
Sangat penting untuk diingat bahwa proses difusi terjadi dalam suatu sistem sosial. Sistem sosial adalah satu set unit yang saling berhubungan yang tergabung dalam suatu upaya pemecahan masalah bersama untuk mencapai suatu tujuan. Anggota dari suatu sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi dan atau sub sistem. Proses difusi dalam kaitannya dengan sistem sosial ini dipengaruhi oleh struktur sosial, norma sosial, peran pemimpin dan agen perubahan, tipe keputusan inovasi dan konsekuensi inovasi.
Difusi inovasi terjadi dalam suatu sistem sosial. Dalam suatu sistem sosial terdapat struktur sosial, individu atau kelompok individu, dan norma-norma tertentu. Berkaitan dengan hal ini, Rogers (1983) menyebutkan adanya empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi. Keempat faktor tersebut adalah:
1)    Struktur sosial (social structure)
Struktur sosial adalah susunan suatu unit sistem yang memiliki pola tertentu. Adanya sebuah struktur dalam suatu sistem sosial memberikan suatu keteraturan dan stabilitas perilaku setiap individu dalam suatu sistem sosial tertentu. Struktur sosial juga menunjukan hubungan antar anggota dari sistem sosial. Hal ini dapat dicontohkan seperti terlihat pada struktur oranisasi suatu perusahaan atau struktur sosial masyarakat suku tertentu. Struktur sosial dapat memfasilitasi atau menghambat difusi inovasi dalam suatu sistem. Katz (1961) seperti dikutip oleh Rogers menyatakan bahwa sangatlah bodoh mendifusikan suatu inovasi tanpa mengetahui struktur sosial dari adopter potensialnya, sama halnya dengan meneliti sirkulasi darah tanpa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang struktur pembuluh nadi dan arteri. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers dan Kincaid (1981) di Korea menunjukan bahwa adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik individu itu sendiri dan juga sistem sosial dimana individu tersebut berada.
2)    Norma sistem (system norms)
Norma adalah suatu pola perilaku yang dapat diterima oleh semua anggota sistem sosial yang berfungsi sebagai panduan atau standar bagi semua anggota sistem sosial. Sistem norma juga dapat menjadi faktor penghambat untuk menerima suatu ide baru. Hal ini sangat berhubungan dengan derajat kesesuaian (compatibility) inovasi denan nilai atau kepercayaan masyarakat dalam suatu sistem sosial. Jadi, derajat ketidak sesuaian suatu inovasi dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut oleh individu (sekelompok masyarakat) dalam suatu sistem social berpengaruh terhadap penerimaan suatu inovasi tersebut.
3)    Opinion Leaders
Opinion leaders dapat dikatakan sebagai orang-orang berpengaruh, yakni orang-orang tertentu yang mampu memengaruhi sikap orang lain secara informal dalam suatu sistem sosial. Dalam kenyataannya, orang berpengaruh ini dapat menjadi pendukung inovasi atau sebaliknya, menjadi penentang. Ia (mereka) berperan sebagai model dimana perilakunya (baik mendukung atau menentang) diikuti oleh para pengikutnya. Jadi, jelas disini bahwa orang berpengaruh memainkan peran dalam proses keputusan inovasi.


4)    Change Agent
Change agent adalah suatua bagian dari sistem sosial yang berpengaruh terhadap sistem sosialnya. Mereka adalah orang-orang yang mampu memengaruhi sikap orang lain untuk menerima sebuah inovasi. Tetapi change agent  bersifat resmi atau formal, ia mendapat tugas dari kliennya untuk memengaruhi masyarakat yang berada dalam sistem sosialnya. Change agent atau dalam bahasia Indonesia yang biasa disebut agen perubah, biasanya merupakan orang-orang profesional yang telah mendapatkan pendidikan atau pelatihan tertentu untuk dapat memengaruhi sistem sosialnya. Di dalam buku ”Memasyarakatkan Ide-ide Baru” yang ditulis oleh Rogers dan Shoemaker, fungsi utama dari change agent  adalah menjadi mata rantai yang menghubungkan dua sistem sosial atau lebih. Dengan demikian, kemampuan dan keterampilan change agent berperan besar terhadap diterima atau ditolaknya inovasi tertentu. Sebagai contoh, lemahnya pengetahuan tentang karakteristik struktur sosial, norma dan orang kunci dalam suatu sistem sosial (misal: suatu institusi pendidikan), memungkinkan ditolaknya suatu inovasi walaupun secara ilmiah inovasi tersebut terbukti lebih unggul dibandingkan dengan apa yang sedang berjalan saat itu.
Ralph Linton (1963) dalam buku ”Memasyarakatkan Ide-ide Baru” melihat bahwa setiap inovasi mempunyai tiga unsur pokok yang harus diketahui oleh change agent, yakni:
·         Bentuk yang dapat diamati langsung dalam penampilan fisik suatu inovasi
·         Fungsi inovasi tersebut bagi cara hidup anggota sistem
·         Makna, yakni perspektif subyektif dan seringkali tak disadari tentang inovasi tersebut oleh anggota sistem sosial. Karena sifatnya subyektif, unsur makna ini lebih sulit didifusikan daripada bentuk maupun fungsinya. Terkadang kultur penerima cenderung menggabungkan makna inovasi itu dengan makna subyektif, sehingga makna aslinya hilang.
5)    Heterofili dan Homofili
Difusi diidentifikasi sebagai jenis komunikasi khusus yang berhubungan dengan penyebaran inovasi. Pada teori Two-Step Flow, opinion leader dan pengikutnya memiliki banyak kesamaan. Hal tersebut yang dipandang dalam riset  difusi sebagai homofili. Yakni, tingkat di mana pasangan individu yang berinteraksi memiliki banyak kemiripan sosial, contohnya keyakinan, pendidikan, nilai-nilai, status sosial dan lain sebagainya. Lain halnya dengan heterofili, heterofili adalah tingkat di mana pasangan individu yang berinteraksi memiliki banyak perbedaan. Persamaan dan perbedaan ini akan berpengaruh terhadap proses difusi yang terjadi. Semakin besar derajat kesamaannya maka semakin efektif komunikasi yang terjadi untuk mendifusikan inovasi dan sebaliknya. Makin tinggi derajat perbedaannya semakin banyak kemungkinan masalah yag terjadi dan menyebabkan suatu komunikasi tidak efektif. Oleh karenanya, dalam proses difusi inovasi, penting sekali untuk memahami betul karakteristik adopter potensialnya untuk memperkecil “heterophily”.

-       Proses Difusi Inovasi





Bagan 1model proses difusi inovasi menurut Everett M. Rogers
1.    Tahap Pengetahuan (Knowledge)
Ada beberapa sumber yang menyebutkan tahap pengetahuan sebagai tahap “Awareness”. Tahap ini merupakan tahap penyebaran informasi tentang inovasi baru, dan saluran yang paling efektif untuk digunakan adalah saluran media massa. Dalam tahap ini kesadaran individu akan mencari atau membentuk pengertian inovasi dan tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Rogers mengatakan ada tiga macam pengetahuan yang dicari masyarakat dalam tahapan ini, yakni:
-       Kesadaran bahwa inovasi itu ada
-       Pengetahuan akan penggunaan inovasi tersebut
-       Pengetahuan yang mendasari bagaimana fungsi inovasi tersebut bekerja
2.    Tahap Persuasi (Persuasion)
Dalam tahapan ini individu membentuk sikap atau memiliki sifat yang menyetujui atau tidak menyetujui inovasi tersebut. Dalam tahap persuasi ini, individu akan mencari tahu lebih dalam informasi tentang inovasi baru tersebut dan keuntungan menggunakan informasi tersebut. Yang membuat tahapan ini berbeda dengan tahapa pengetahuan adalah pada tahap pengetahuan yang berlangsung adalah proses memengaruhi kognitif, sedangkan pada tahap persuasi, aktifitas mental yang terjadi alah memengaruhi afektif. Pada tahapan ini seorang calon adopter akan lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi. Kepribadian dan norma-norma sosial yang dimiliki calon adopter ini akan menentukan bagaimana ia mencari informasi, bentuk pesan yang bagaimana yang akan ia terima dan yang tidak, dan bagaimana cara ia menafsirkan makna pesan yang ia terima berkenaan dengan informasi tersebut. Sehingga pada tahapan ini seorang calon adopter akan membentuk persepsi umumnya tentang inovasi tersebut. Beberapa ciri-ciri inovasi yang biasanya dicari pada tahapan ini adalah karekateristik inovasi yakni relative advantage, compatibility, complexity, trialability, dan observability.
3.    Tahap Pengambilan Keputusan (Decision)
Di tahapan ini individu terlibat dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan untuk mengadopsi inovasi tersebut atau tidak sama sekali. Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai cara tindak yang paling baik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi, yakni:
-       Praktik sebelumnya
-       Perasaan akan kebutuhan
-       Keinovatifan
-       Norma dalam sistem sosial
Proses keputusan inovasi memiliki beberapa tipe yakni:
1.    Otoritas adalah keputusan yang dipaksakan kepada seseorang oleh individu yang berada dalam posisi atasan
2.    Individual adalah keputusan dimana individu yang bersangkutan mengambil peranan dalam pembuatannya. Keputusan individual terbagi menjadi dua macam, yakni:
a.    Keputusan opsional adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan yang dibuat oleh anggota sistem.
b.    Keputusan kolektif adalah keputusan dibuat oleh individu melalui konsesnsus dari sebuah sistem sosial
c.    Kontingen adalah keputusan untuk menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan yang mendahuluinya
d.    Konsekuensi adalah perubahan yang terjadi pada individu atau suatu sistem sosial sebagai akibat dari adopsi atau penolakan terhadap inovasi
Ada tiga macam konsekuensi setelah diambilnya sebuah keputusan, yakni:
-       Konsekuensi Dikehendaki VS Konsekuensi Tidak Dikehendaki
Konsekuensi dikehendaki dan tidak dikehendaki bergantung kepada dampak-dampak inovasi dalam sistem sosial berfungsi atau tidak berfungsi. Dalam kasus ini, sebuah inovasi bisa saja dikatakan berfungsi dalam sebuah sistem sosial tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya inovasi tersebut tidak berfungsi bagi beberapa orang di dalm sistem sosial tersebut Sebut saja revolusi industri di Inggris, akibat dari revolusi tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilik modal tetapi tidak sesuai denganapa yang dikehendaki oleh tenaga kerja yang pada akhirnya kehilangan pekerjaaan dan menjadi pengangguran.
-       Konsekuensi Langsung VS Koneskuensi Tidak Langsung
Konsekuensi yang diterima bisa disebut konsekuensi langsung atau tidak langsung bergantung kepada apakah perubahan-perubahan pada individu atau sistem sosial terjadi dalam respons langsung terhadap inovasi atau sebagai hasil dari urutan kedua dari konsekuensi. Terkadang efek atau hasil dari inovasi tidak berupa pengaruh langsung pada pengadopsi.
-       Konsekuensi Yang Diantisipasi VS Konsekuensi Yang Tidak Diantisipasi
Tergantung kepada apakah perubahan-perubahan diketahui atau tidak oleh para anggota sistem sosial tersebut. Contohnya pada penggunaan internet sebagai media massa baru di Indonesia khususnya dikalangan remaja. Umumnya, internet digunakan untuk mendapatkan informasi yang terbaru dari segala penjuru dunia, inilah yang disebut konsekuensi yang diantisipasi. Tetapi tanpa disadari penggunaan internet bisa disalahgunakan, misalnya untuk mengakses hal-hal yang berbau pornografi hal inilah yang disebut konsekuensi yang tidak diantisipasi. Remaja menjadi mudah mendapatkan video atau gambar-gambar yang tidak pantas.
4.    Tahap Pelaksanaan (Implementation)
Tahapan ini hanya akan ada jika pada tahap sebelumnya, individu atau partisipan memilih untuk mengadopsi inovasi baru tersebut. Dalam tahap ini, individu akan menggunakan inovasi tersebut. Jika ditahapan sebelumnya proses yang terjadi lebih kepada mental exercise yakni berpikir dan memutuskan, dalam tahap pelaksanaan ini  proses yang terjadi lebih ke arah perubahan tingkah laku sebagai bentuk dari penggunaan ide baru tersebut.
5.    Tahap Konfirmasi (Confirmation)
Tahap terakhir ini adalah tahapan dimana individu akan mengevaluasi dan memutuskan untuk terus menggunakan inovasi baru tersebut atau menyudahinya. Selain itu, individu akan mencari penguatan atas keputusan yang telah ia ambil sebelumnya. Apabila, individu tersebut menghentikan penggunaan inovasi tersebut hal tersebut dikarenakan oleh hal yang disebut disenchantment discontinuance dan atau replacement discontinuance. Disenchantment discontinuance disebabkan oleh ketidakpuasan individu terhadap inovasi tersebut sedangkan replacement discontinuance disebabkan oleh adanya inovasi lain yang lebih baik.

-       Tipe – tipe pengadopsi Inovasi
Pembagian anggota sistem sosial ke dalam kelompok-kelompok adopter didasarkan pada tingkat keinovatifannya, yakni lebih awal atau lebih lambatnya seseorang mengadopsi sebuah inovasi dibandingkan dengan anggota sistem sosial lainnya. Berikut adalah kurva yang menggambarkan distribusi frekwensi normal kategori adopter beserta persentase anggota kelompok adopter dalam sebuah sistem sosialnya.



Kurva yang membentuk lonceng tersebut dihasilkan oleh sejumlah penelitian tentang difusi inovasi. Kurva lonceng tersebut menggambarkan banyaknya pengadopsi dari waktu ke waktu. Pada tahun pertama, usaha penyebaran inovasi akan menghasilkan jumlah pengadopsi yang sedikit, pada tahun berikutnya jumlah pengadopsi akan lebih banyak dan setelash sampai pada puncaknya, sedikit demi sedikit jumlah pengadopsi akan menyusut. Sehingga jika kurva tersebut dikumulasikan akan membentuk kurva S sesuai dengan kurva S yang sebelumnya telah disampaikan oleh Gabriel Tarde.
Berikut adalah karakteristik dari berbagai macam kategori adopter:


1.    Inovator
Tipe ini adalah tipe yang menemukan inovasi. Mereka mencurahkan sebagian besar hidup, energi, dan kreatifitasnya untuk mengembangkan ide baru. Selain itu orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini cenderung berminat mencari hubungan dengan orang-orang yang berada di luar sistem mereka. Rogers menyebutkan karakteristik innovator sebagai berikut:
-       Berani mengambil risiko
-       Mampu mengatur keuangan yang kokoh agar dapat menahan kemungkinan kerugian dari inovasi yang tidak menguntungkan
-       Memahami dan mampu mengaplikasikan teknik dan pengetahuan yang kompleks
-       Mampu menanggulangi ketidakpastian informasi
2.  Penerima Dini
Penerima dini atau Early adopter biasanya adalah orang-orang yang berpengaruh dan lebih dulu memiliki banyak akses karena mereka memiliki orientasi yang lebih ke dalam sistem sosial. Untuk memengaruhi penerima dini tidak memerlukan persuasi karena mereka sendiri yang selalu berusaha mencari sesuatu yang dapat memberikan mereka keuntungan dalam kehidupan sosial atau ekonomi. Karakteristik yang dimiliki oleh early adopter adalah:
-       Bagian yang terintegrasi dalam sistem lokal sosial
-       Opinion leader yang paling berpengaruh
-       Role model dari anggota lain dalam sebuah sistem sosial
-       Dihargai dan disegani oleh orang-orang disekitarnya
-       Sukses
3.    Mayoritas Dini (orang–orang yang lebih dahulu selangkah lebih maju)
Early majority ini adalah golongan orang yang selangkah lebih maju. Mereka biasanya orang yang pragmatis, nyaman dengan ide yang maju, tetapi mereka tidak akan bertindak tanpa pembuktian yang nyata tentang keuntungan yang mereka dapatkan dari sebuah produk baru. Mereka adalah orang-orang yang sensitive terhadap pengorbanan dan membenci risiko untuk itu mereka mencari sesuatu yang sederhana, terjamin, cara yang lebih baik atas apa yang telah mereka lakukan.
Ada beberapa karakteristik mayoritas dini, yakni:
- Sering berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya
- Jarang mendapatkan posisi sebagai opinion leader
- Sepertiganya adalah bagian dari sistem (kategori atau tipe terbesar dalam sistem)
- Berhati-hati sebelum mengadopsi inovasi baru
4.    Mayoritas Belakangan
Orang-orang dari golongan ini adalah orang-orang yang konservatif pragmatis yang sangat membenci risiko serta tidak nyaman dengan ide baru sehingga mereka belakangan mendapatkan inovasi setelah mereka mendapatkan contoh. Golongan ini lebih dipengaruhi oleh ketakutan dan golongan laggard.
Rogers mengidentifikasi karakteristik golongan late majority sebagai berikut:
- Berjumlah sepertiga dari suatu sistem sosial
- Mendapatkan tekanan daro orang-orang sekitarnya
- Terdesak ekonomi
- Skeptis
- Sangat berhati-hati
5.    Laggard (lapisan paling akhir)
Golongan Laggard adalah golongan akhir yang memandang inovasi atau sebuah perubahan tingkah laku sebagai sesuatu yang memiliki risiko tinggi. Ada indikasi bahwa sebagian dari golongan ini bukanlah orang-orang yang benar-benar skeptis, bisa jadi mereka adalah inovator, penerima dini, atau bahkan mayoritas dini yang terkurung dalam suatu sistem sosial kecil yang masih sangat terikat dengan adat atau norma setempat yang kuat. Atau munngkin karena terbatasnya sumber dan saluran komunikasi menyebabkan seseorang terlambat mengetahui adanya sebuah inovasi dan pada akhirnya golongan ini disebut sebagai Laggard.
Ada beberapa karakteristik Laggard, yakni:
- Tidak terpengaruh opinion leader
- Terisolasi
- Berorientasi terhadap masa lalu
- Curiga terhadap inovasi
- Mempunyai masa pengambilan keputusan yang lama
- Sumber yang terbatas.
D.   PENDAPAT SAYA TENTANG TEORI EVERETT M. ROGER

Setelah membaca penjelasan yang sangat panjang mulai dari biografi Everett M. Roger hingga kepada teori – teori yang telah beliau kemukakan ada beberapa poin yang sangat menarik dari kacamata saya sendiri diantaranya adalah :
ADANYA PROSES SOSIOLOGI KOMUNIKASI
Saya menyimpulkan bahwa Difusi inovasi itu adalah proses sosial yang mengkomunikasikan ide – ide yang baru. Mengapa kemudian di katakan proses sosial , hal ini tidak lain di karenakan proses penyebaran suatu inovasi jelas melalui masyarakat dan di dalamnya terjadi proses pertukaran informasi dari satu pihak ke pihak lainnya.
Sebagai contoh ketika penemuan teknologi kompor listrik di temukan maka di sini terjadilah proses peralihan, dan dalam peralihan itu terdapat beberapa golongan konsumen yang sudah di jelaskan di atas tadi ada inovator dan lain sebagainya. Maka di sinilah awal mulanya seorang inovator melemparkan hasil inovasinya ke masyarakat luas, kemudian golongan Early adopter dengan cepat menerima inovasi itu dan segera beralih dari kompor gas konvensional menjadi kompor listrik, kemudian laten adopter menyusul hingga akhirnya sampai kepada Lagger.

DAFTAR PUSTAKA

en.wikipedia.org/wiki/Everett_Rogers
http://www.valuebasedmanagement.net/methods_rogers_innovation_adoption_curve.html
a.parsons.edu/~limam240/thesis/documents/Diffusion_of_Innovations.pdf
http://www.stsc.hill.af.mil/crosstalk/1999/11/paulk.asp
http://www.soc.iastate.edu/sapp/Soc415Diffusion2.html